Labels

Showing posts with label B. Show all posts
Showing posts with label B. Show all posts

Peribahasa Indonesia Lengkap B (1)


Kumpulan Peribahasa Indonesia Lengkap yang Diawali dengan Huruf "B" Disertai dengan Artinya - Bagian 1 dari 8


1. Badai diikat dengan sehasta tali.
Orang yang kebebasannya dikekang.

2. Badak makan anak.
Orang yang mengusir anaknya sendiri, karena takut kehormatannya hancur.

3. Badan bersaudara, emas tak kan bersaudara; kasih saudara sama ada; kasih bapak menambah mana yang ada; kasih ibu sama rata; kasih sahabat sama binasa.
Di antara segala macam kasih sayang, kasih sahabatlah yang melebihi dari semuanya.

4. Badan boleh dimiliki, tetapi hati tak dapat dimiliki.
a. Hal seseorang yang terpaksa mengerjakan suatu pekerjaan, tetapi pikirannya selalu  kepada orang lain. b. Fisik bisa terkekang, tetapi pikiran masih bisa bebas.

5. Bagai air di daun talas.
Orang yang tidak mempunyai pendirian.

6. Bagai air titik ke batu.
Memberi nasihat baik kepada yang jahat tidak akan bisa masuk.

7. Bagai alu pencungkil duri.
Mengerjakan pekerjaan yang sulit dan tak masuk akal, tak mungkin akan berhasil.    

8. Bagai anai-anai bubus.
Banyak orang berkumpul karena ada pertunjukan.        

9. Bagai anjing beranak enam.
Perihal orang yang kurus sekali bagai tidak terurus.       

10. Bagai anjing kedahuluan.
Hal seseorang yang sangat kecewa dan gelisah, karena laba yang diharap-harap telah didapat orang lain.   

11. Bagai antan pencukil duri.
Mengerjakan sesuatu yang mustahil bisa berhasil.

12. Bagai api dengan asap.
Persahabatan yang sulit dipisahkan/sangat akrab.

13. Bagai aur dihela sungsang.
Suatu pekerjaan yang sangat sulit diselesaikan, karena terlalu banyak sangkut-pautnya dan rumit.

14. Bagai ayam kena kepala.
Tak dapat menjawab atau berbuat sesuatu lagi, kerena benar-benar terpojok.

15. Bagai ayam kurik panjang ekornya.
Seseorang yang cantik dan pandai berdandan.

16. Bagai ayam lebih penggunting.
Orang yang sudah tidak lagi masuk dalam perhitungan keluarga atau suatu perkumpulan, karena jatuh miskin atau sudah kedapatan budi.

17. Bagai babi merasai gulai.
Perihal orang hina yang tak layak mendapatkan bantuan dari bangsawan.       

18. Bagai balam dengan ketitiran.
Orang yang selalu berselisih paham.         

19. Bagai baling-baling di atas bukit.
Mudah dipengaruhi oleh orang lain. 

20. Bagai bawang ditimpa jambak.
Keadaannya rusak parah.   

21. Bagai belacan dikerat dua, yang pergi busuk, yang diam anyir.
Kedua-duanya menjadi aib/buruk.  

22. Bagai Belanda minta tanah.
Permintaan yang tidak habis-habisnya, karena loba dan tamak. 

23. Bagai belut dalam lumpur.
Karena kecerdikannya maka tidak mudah kena tipu orang.       

24. Bagai belut digetir ekor.
Orang yang sangat tangkas/serba cepat.  

25. Bagai bersuluh di tengah hari.
Perkara yang sudah jelas.   

26. Bagai bersurat di atas air.
Pekerjaan yang tidak akan mendapatkan keuntungan.

27. Bagai beruk kena ipuh.
Menggeliat-geliat kesakitan.

28. Bagai betung bulat tak bersegi, pipit jantan tak bersarang.
Tiada berkampung halaman dan tidak berumah tangga tetap, selalu mengembara.     

29. Bagai budak sapu ingus.
Orang yang mendapatkan malu di suatu pertemuan.      

30. Bagai bujang baru berkeris, bagai gadis baru bersubang, bagai si buta baru melihat.
Seseorang yang sangat sombong karena pangkat dan kekuasaan, atau kekayaan yang baru diperolehnya.

31. Bagai bujang bojong berkeris.
Orang yang sombong karena baru saja mendapatkan kekuasaan/kekayaan.   

32. Bagai bujang dengan gadis.
Awalnya malu-malu, tapi lama-lama mau.

33. Bagai bulan dipagar bintang.
Gadis yang cantik bersama teman-temannya yang cantik pula.

34. Bagai bulan disaput awan.
Muka atau wajah yang sedih karena mendapat musibah.

35. Bagai bulan empat belas.
Wajah yang mempesona/cantik.

36. Bagai bulan kesiangan.
Karena kurang tidur dan kecapaian, wajahnya jadi pucat.

37. Bagai bulan purnama.
Wajah yang berseri-seri tanpa beban.      

38. Bagai bumi dan langit.
Dua hal yang sangat jelas perbedaannya. 

39. Bagai bunga ditimpa panas.
Perihal seseorang perempuan yang cantik, tiba-tiba ditimpa kesusahan, maka hilanglah cahaya dan seri wajahnya.    

40. Bagai burung terbang di udara.
Kehidupan yang sangat bebas dan tidak ada yang mengganggu.


Peribahasa Indonesia Lengkap B (2)


Kumpulan Peribahasa Indonesia Lengkap yang Diawali dengan Huruf "B" Disertai dengan Artinya - Bagian 2 dari 8


41. Bagai dientak alu luncang.
Terkalahkan oleh orang bodoh/lemah.      

42. Bagai dulang dengan tudung saji.
Suami isteri yang elok parasnya dan cocok.        

43. Bagai mentimun dengan durian.
Perihal orang lemah hendak melawan orang yang kuat.  

44. Bagai emak mandul, baru beranak.
Sangat menyayangi anaknya.        

45. Bagai embun ditimpa panas matahari.
Perihal hilang atau lenyap tanpa jejak.      

46. Bagai empedu dekat di hati.
Dua orang yang saling menyayangi tidak akan bisa dipisahkan.  

47. Bagai enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing.
Tidak ada kesepakatan, karena berpegang pada pendapat masing-masing.     

48. Bagai gagak menggonggong telur.
Suami istri yang tidak sepadan.

49. Bagai guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan.
Sesuatu jika sudah tak berguna/tidak digunakan lagi, biasanya akan ditinggalkan begitu saja.

50. Bagai harimau beranak muda.
Orang yang galak dengan isterinya sendiri.

51. Bagai hujan turun ke pasir.
Perihal orang yang tidak tahu terima kasih.

52. Bagai intan diikat dengan tembaga.
Perihal ketidakcocokan/tidak sepadan.      

53. Bagai diiris dengan sembilu.
Perihal sakit hati yang amat sangat.         

54. Bagai ikan keluar dari air.
Diibaratkan kepada seseorang yang hidupnya selalu gelisah, cemas, dan merasa ketakutan. 

55. Bagai itik pulang petang.
Sangat lamban dalam mengerjakan sesuatu.

56. Bagai jawi makan, dimamah dahulu baru ditelan.
Sebelum mengerjakan suatu pekerjaan, sebaiknya ditimbang dulu masak-masak agar mendapatkan hasil yang maksimal.     

57. Bagai jawi terkurung siang.
Tidak bisa berbuat banyak, karena terikat adat istiadat keluarganya.    

58. Bagai kaca jatuh ke batu.
Hati yang hancur luluh karena ditimpa kesusahan.

59. Bagai kacang direbus satu.
Perihal orang yang sangat bersuka cita dan riang gembira, sehingga lupa diri.  

60. Bagai kambing diseret ke air.
Mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan, hanya karena terpaksa saja melakukannya.

61. Bagai katak di dalam tempurung.
Seseorang yang sangat picik dan sempit pengetahuannya.        

62. Bagai kera diberi kaca.
Memberi barang kepada orang yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkannya.   

63. Bagai kerakap di atas batu, hidup segan, mati tak mau.
Orang yang sering sakit-sakitan, hidup tidak, mati pun tidak.

64. Bagai kerbau menarik dokar.
Meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya, sehingga tampak janggal.     

65. Bagai kucing dibawakan lidi.
Hal seseorang yang sangat takut, karena membuat suatu kesalahan.

66. Bagai kucing kehilangan anak.
Seseorang yang sangat gelisah karena berpisah dengan seseorang yang sangat dicintainya.

67. Bagai kucing lepas senja.
Perihal anak muda yang sering keluar malam.     

68. Bagai kucing mengintai panggang.
Perihal seseorang yang gelisah menunggu keuntungan yang belum tentu didapat.      

69. Bagai kucing minta api.
Berharap sesuatu, tetapi yang diharapkan tidak kunjung datang.

70. Bagai kumbang putus tali.
Perihal sesuatu yang sangat lancar dan cepat.     

71. Bagai kundur di atas dulang.
Perihal seseorang yang tidak tetap pendiriannya. 

72. Bagai langau di ekor gajah.
Orang yang suka ikut-ikutan, tidak punya pendirian.       

73. Bagai mandi dalam cupak.
Serba tanggung, tidak mencukupi. 

74. Bagai makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tak dimakan bapak mati.
Perihal harus memilih satu dari dua pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan.

75. Bagai makan di daun pisang, habis makan piring dibuang.
Hal seseorang yang berkecil hati karena orang yang telah melupakan jasanya.

76. Bagai manik putus talinya, bagai intan putus pengarang.
Perihal air mata wanita yang jatuh bercucuran, setelah mendengar kabar sedih.        

77. Bagai melihat asam.
Mempunyai keinginan yang sangat besar.

78. Bagai memakai baju berpinjam.
Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.

79. Bagai membandarkan air ke bukit.
Mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tak mungkin bisa berhasil/sia-sia.

80. Bagai membekali budak lari.
Mengalami kerugian dua kali.


Peribahasa Indonesia Lengkap B (3)


Kumpulan Peribahasa Indonesia Lengkap yang Diawali dengan Huruf "B" Disertai dengan Artinya - Bagian 3 dari 8


81. Bagai membelah betung.
Orang yang tidak adil.        

82. Bagai membelalak orang buta; bagai menghardik orang pekak.
Tidak berguna memberikan nasihat kepada orang yang takkan mau mengerjakannya, perbuatan yang sia-sia.

83. Bagai menampung air dengan gayung tiris.
Orang yang kita percaya untuk menyimpan kekayaan kita, tetapi menghabiskannya tanpa perhitungan.      

84. Bagai menanti laki pulang maling.
Sangat khawatir karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.      

85. Bagai mencari belalang di atas akar.
Pekerjaan yang tidak mendapatkan hasil/sia-sia.  

86. Bagai mendapat durian runtuh.
Mendapat keuntungan besar yang tidak disangka-sangka.

87. Bagai mengail kucing hanyut.
Melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat dan sia-sia.

88. Bagai mengayuh biduk hilir.
Perihal seseorang yang sangat gembira mengerjakan sesuatu pekerjaan yang diperintahkan kepadanya, karena ia telah bermaksud juga mengerjakan pekerjaan itu.

89. Bagai menggantang anak ayam.
Pekerjaan yang sangat sulit untuk dikerjakan, dan tidak menghasilkan apa pun.        

90. Bagai menghitung bintang di langit.
Mengerjakan suatu pekerjaan yang sia-sia dan takkan mendapat hasil. 

91. Bagai menyimpan bangkai.
Serapat-rapatnya menyembunyikan perbuatan yang buruk, lama-kelamaan akan ketahuan juga.    

92. Bagai menunjukkan ilmu kepada orang menetek.
Mengajar orang yang sudah pandai, tidak ada gunanya.  

93. Bagai menyurat di atas air.
Melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.   

94. Bagai meremas biji cempedak.
Melakukan pekerjaan yang hanya dilakukan orang tertentu atau ahlinya.

95. Bagai minum air bercacing.
Mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak disukainya.     

96. Bagai panas mengandung hujan.
Perihal senyum dan tawa yang dibuat-buat, padahal sedang bersedih hati.

97. Bagai parang bermata dua.
Mendapat keuntungan dari kedua belah pihak.

98. Bagai pelita kehabisan minyak.
Perihal wajah seseorang yang lesu dan tidak bergairah karena menderita kesedihan.

99. Bagai perahu tidak berkemudi.
Perihal rumah tangga atau perusahaan yang tidak punya pemimpin.     

100. Bagai pinang dibelah dua.
Perihal sesuatu yang serupa benar.

101. Bagai rambut dibelah tujuh.
Sangat kecil atau sangat rumit.     

102. Bagai roda pedati, sekali ke atas, sekali kebawah.
Nasib seseorang tidak selalu sama, kadang-kadang kaya, adakalanya jatuh miskin.   

103. Bagai si cebol merindukan bulan.
Angan-angan yang tidak mungkin tercapai.

104. Bagai si kudung (si buntung) dapat cincin.
Memperoleh sesuatu yang tidak dapat dipergunakan sendiri.     

105. Bagai si lumpuh pergi merantau.
Suatu hal yang tidak mungkin bisa terlaksana.     

106. Bagai sirih pulang ke gayangnya, seperti pinang pulang ke tampuknya.
Tidak merasa canggung, karena sudah pada tempatnya. 

107. Bagai tanah pelempar balam.
Melakukan suatu usaha dengan tidak serius.       

108. Bagai terpijal bara hangat.
Orang yang selalu gelisah, karena selalu ditimpa musibah.        

109. Bagai unta menyerahkan diri.
Menyerahkan diri dengan tulus ikhlas (tidak bersyarat).  

110. Bagaimana boleh ketam mengajar anaknya berjalan betul?
Seorang pendidik yang kurang baik perilakunya, niscaya sangat sulit mengajar murid-muridnya agar menjadi orang yang baik-baik.

111. Bagaimana bunyi gendang, begitulah tarinya.
Bagaimana perintah, begitulah yang diturut atau bagaimana perbuatan dan perkataan, begitulah balasan dan jawabannya. 

112. Bagaimana hari takkan hujan, katak betung dalam telaga berteriak selalu.
Kalau selalu berusaha, lambat laun tentu akan berhasil juga.     

113. Bagaimana kata dukunlah asal urat jangan terkilir.
Menyerah kepada orang yang ahli, asalkan pekerjaan selesai.

114. Bagaimana mentimun hendak berlagak dengan durian.
Mustahil orang yang miskin dan hina hendak melawan orang yang besar dan berkuasa.

115. Bagai kambing dalam biduk.
Orang yang takut dengan sesuatu, tetapi tidak dapat menyelamatkan diri.      

116. Bagi si bisu berasin, terasa ada, terkatakan tidak.
Orang yang merasa malu tidak akan bisa mengeluarkan isi hatinya, meskipun sebenarnya tahu apa yang akan dikatakan.    

117. Bahasa dan bangsa tidak diperjualbelikan.
Jika budi bahasa kita baik, maka kita akan dihormati orang.      

118. Bahasa menunjukkan bangsa.
Baik dan buruk seseorang dapat diketahui dari budi bahasanya (adat istiadat). 

119. Baik berjagung-jagung sementara padi belum masak.
Perihal berbuat sesuatu yang tidak begitu penting, namun bermanfaat juga.    

120. Bajak patah banting terambau.
Mendapat musibah terus menerus.


Peribahasa Indonesia Lengkap B (4)


Kumpulan Peribahasa Indonesia Lengkap yang Diawali dengan Huruf "B" Disertai dengan Artinya - Bagian 4 dari 8


121. Bakar air ambil abunya.
Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi.    

122. Bakar tak berbau.
Tidak percaya dengan omongan/cerita orang lain.

123. Bala lalu dibawah singgah.
Jangan sengaja mencari masalah.  

124. Balik belakang lain bicara.
Orang yang tidak teguh memegang janji.  

125. Bangau-bangau minta aku leher, badak-badak minta aku daging.
Seseorang yang selalu iri melihat kekayaan dan kelebihan orang lain.   

126. Bangkai gajah tak dapat ditutup dengan nyiru.
Kejahatan yang besar sangat sulit untuk disembunyikan. 

127. Banyak dipilih dapat buku.
Karena terlalu banyak memilih, akhirnya malah mendapatkan yang buruk.      

128. Banyak habis sedikit sedang.
Cukup dan tidaknya sesuatu, tergantung pada hemat dan borosnya seseorang.

129. Banyak udang banyak garamnya, banyak orang banyak ragamnya.
Setiap orang mempunyai kegemaran masing-masing.     

130. Barang di mana pun, belakang periuk itu hitam juga.
Hal orang yang berpikiran sempit, di manapun dia tinggal tak ada yang baik baginya.

131. Barang siapa menggali lubang, ia akan terperosok ke dalamnya.
Barang siapa ingin mencelakakan orang lain pasti dia sendiri yang celaka terlebih dahulu.

132. Barang siapa yang berkotek, ialah yang bertelur.
Barang siapa yang menjawab sindiran orang, ialah yang melakukan pekerjaan yang disindirkan itu. 

133. Baru dapat gading berubah, terbuang tanduk kerbau mati.
Karena ada teman baru, teman lama tidak dipedulikan lagi.       

134. Baru dianjur sudah tertarung.
Baru saja memulai pekerjaan, tiba-tiba mendapatkan halangan.

135. Baru hendak tunas sudah dipetik.
Baru mendapatkan rezeki sedikit sudah boros.    

136. Batang kayu di hutan, masakan sama tinggi.
Nasib dan untung seseorang tidak sama.  

137. Batu kecil terguling naik, batu besar terguling turun.
Orang yang rendah derajatnya jadi mulia, sedangkan orang bangsawan/besar menjadi hina karena perbuatannya sendiri.         

138. Batu pun empuk, jangankan hati manusia.
Perkataan yang lemah-lembut, dapat meluluhkan hati manusia. 

139. Bau busuk tiada berbangkai.
Tuduhan/celaan yang tidak benar adanya karena tidak terbukti. 

140. Baunya setahun pelayaran.
Baunya sangat menyengat. 

141. Bayang-bayang ditubuh.
Mengharapkan sesuatu yang belum tentu pasti.   

142. Bayang-bayang sepanjang badan.
Pengeluaran harus disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh.      

143. Beban sudah di depan pintu.
Anak gadis yang sudah dewasa, sudah pantas untuk berumah tangga.  

144. Bekerja bahu-membahu.
Mengerjakan pekerjaan bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.      

145. Belahlah dada lihatlah hati.
Untuk menguatkan kebenaran sesuatu yang diucapkan.  

146. Belalang dapat menuai.
Mendapat rezeki yang tidak sengaja diperoleh.    

147. Belum beranak sudah berbesan.
Belum apa-apa sudah mengharapkan yang berlebihan.

148. Belum beranak sudah ditimang.
Mengira-ngira laba atau keuntungan dari sesuatu yang belum pasti.

149. Belum bergigi hendak menggigit, belum berkuku hendak menggaruk.
Belum mahir benar hendak mengajarhan sesuatu.

150. Belum berkuku hendak mencubit.
Belum berkuasa sudah mencari-cari kesalahan orang lain.        

151. Belum bertaji hendak berkokok.
Perihal seseorang yang belum berilmu, sudah sombong dan membesarkan dirinya.    

152. Belum dipanggil sudah datang, belum disuruh sudah pergi.
Perihal seseorang yang cerdas dan sigap. 

153. Belum dipanjat asap kemenyan.
Belum pernah nikah.

154. Belum duduk sudah mengujur.
Sudah bergirang hati sebelum yang dikehendaki tercapai.

155. Belum tahu asin garam.
Belum berpengalaman dalam hidup/belum merasakan pahit getirnya kehidupan.        

156. Belum tahu di laba rugi.
Orang yang belum cukup berpengalaman. 

157. Belum tahu pedas lada.
Orang yang belum punya pengalaman hidup.       

158. Belum tahu si upik buyungnya.
Perkara yang berlarut-larut.

159. Belum tentu hilir mudiknya.
Perkara yang belum tentu kepastiannya.   

160. Belut kena ranjau.
Orang yang licik atau licin tapi kena tipu juga.


Peribahasa Indonesia Lengkap B (5)


Kumpulan Peribahasa Indonesia Lengkap yang Diawali dengan Huruf "B" Disertai dengan Artinya - Bagian 5 dari 8


161. Benci akan tikus, rangkiang dibakar.
Karena benci kepada seseorang yang bersalah, kaum yang tidak berdosa dihukum semuanya. Rangkiang = lumbung padi.

162. Beraja di hati, bersultan di mata.
Selalu menuruti kata hati dalam melakukan suatu pekerjaan.    

163. Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan.
Apabila kita berkata, hendaklah hati-hati supaya jangan ada kata-kata yang menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain  

164. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Berjuang dahulu baru bersenang-senang.  

165. Beranak tiada berbidan.
Ditimpa musibah karena perbuatannya sendiri.

166. Berani karena benar, takut karena salah.
Berani berbuat dan menanggung risiko apapun untuk membela kebenaran.

167. Berani malu, takut mati.
Orang yang melakukan perbuatan terlarang, tetapi akhirnya menyesal juga.   

168. Berani menjual, berani membeli.
Bertanggung jawab dengan risiko perbuatannya sendiri.  

169. Berapa berat mata memandang, berat juga bahu memikul.
Betapa pun susahnya melihat penderitaan orang lain, lebih susah lagi orang yang menanggungnya   

170. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Sama-sama merasakan bahagia maupun susah/senasib sepenanggungan.      

171. Berbalik-balik bagai kuda tercirit.
Masalah yang sudah terselesaikan tetapi timbul kembali. 

172. Berbau bagai embacang, berjejak bagai berkik.
Suatu kejahatan yang cukup dengan bukti-buktinya, sulit untuk disembunyikan.         

173. Berbenak di empu kaki.
Tidak memperdulikan baik dan buruk.      

174. Berbilang dari esa, mengaji dari alif.
Mengerjakan sesuatu harus dari awal/permulaan, seterusnya sampai selesai.  

175. Berbuat baik berpandai-pandai, berbuat jahat jangan sekali.
Berbuat baik itu hendaklah ada batasnya, dan berbuat jahat jangan sekali-kali dikerjakan.    

176. Berbukit di balik pendakian.
Baru saja terlepas/terbebas dari masalah, datang lagi masalah yang lain.       

177. Berbulu mata melihat ulat.
Benci sekali melihat wajahnya.      

178. Bercerai bagai akan demam, bercampur bagai akan muntah.
Perihal persaudaraan, sangat rindu apabila berjauhan, dan selalu bertengkar bila berdekatan.

179. Berdiang di abu dingin.
Minta pertolongan kepada orang yang miskin/yang tak bisa menolong   

180. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.
Mempunyai derajat yang sama.     

181. Berenang di air dalam.
Perihal orang kaya yang dapat melakukan kesukaannya dengan tidak terhalang oleh hartanya.

182. Bergalah hilir tertawa buaya, bersuluh di bulan terang tertawa harimau.
Melakukan pekerjaan yang tidak berguna, tentu akan dicemooh/ditertawakan orang yang pandai/berakal.

183. Bergantung pada akar lapuk.
Mengharapkan bantuan kepada orang yang tak sanggup membantu.    

184. Bergantung pada sehelai rambut.
Perihal seseorang yang berada dalam bahaya besar.      

185. Bergetar bibirnya.
Kata-katanya/bicaranya menarik hati; apa yang dikatakan adalah kebenaran. 

186. Berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi.
Pengetahuan yang tidak sempurna dipelajari, tentu tidak akan mendatangkan faedah.

187. Berhakim kepada beruk.
Meminta pertimbangan kepada orang yang tamak.        

188. Berjalan ber-nan tua, berlayar bernahkoda.
Mengerjakan suatu pekerjaan yang besar hendaknya dengan pimpinan yang lebih paham dalam urusan tersebut.      

189. Berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah.
Haruslah diingat bahwa langkah yang salah dan perkataan yang tidak patut bisa mendatangkan kesusahan.

190. Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.
Dalam nengerjakan sesuatu kita harus berusaha sekeras-kerasnya agar yang kita inginkan bisa tercapai.   

191. Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikiri.
Sebelum mengerjakan atau mengatakan sesuatu, hendaknya dipikirkan terlebih dahulu baik buruknya.      

192. Berjalan tidak sedang selangkah, berkata tidak sedang sepatah.
Mengulang kembali pembicaraan sesuatu hal, karena keputusan yang telah lalu belum memuaskan. 

193. Berjenjang naik bertangga turun.
Suatu pekerjaan atau urusan hendaknya dikerjakan menurut peraturan yang berlaku.

194. Berkata di bawah-bawah, mandi dihilir-hilir.
Belum dewasa.

195. Berkata peliharalah lidah, berjalan peliharalah kaki.
Sebelum berbicara atau melakukan sesuatu alangkah baiknya dipikirkan terlebih dahulu.

196. Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar.
Jika mau mengutarakan sesuatu, sebaiknya berhati-hati.

197. Berkawan dengan orang alim menjadi alim, berkawan dengan pencuri menjadi pencuri.
Carilah kawan yang baik akhlaknya.

198. Berkayuh sampai ke hilir.
Menyelesaikan dua tiga pekerjaan dalam waktu yang sama.

199. Berkelahi dengan orang yang tak berambut.
Bertengkar dengan orang yang rendah atau lebih bodoh dari kita.

200. Berkerat rotan, berpatah arang.
Orang yang tak pernah mau berdamai.


Lihat Juga Kumpulan Peribahasa Berikut ini